Tinta Rakyat Nusantara.Com, RABAT – Langkah diplomatik signifikan kembali mengubah arah dinamika geopolitik di Afrika Utara. Pemerintah Republik Ceko secara resmi menyatakan dukungannya terhadap skema otonomi Sahara di bawah kedaulatan Maroko, sebuah posisi yang dinilai sebagai sinyal kuat pergeseran konsensus internasional.
Dukungan tersebut dituangkan dalam deklarasi bersama yang ditandatangani di Rabat, menyusul pertemuan antara Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita, dan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Ceko, Petr Macinka.
Tak sekadar pernyataan politik, deklarasi ini juga memuat langkah konkret. Republik Ceko berencana mengirim duta besarnya ke wilayah Sahara guna mendorong kerja sama ekonomi serta membuka peluang investasi baru. Bahkan, Kedutaan Besar Ceko di Rabat akan memperluas layanan konsuler hingga mencakup wilayah Sahara—sebuah langkah yang dinilai sebagai pengakuan de facto atas integrasi wilayah tersebut ke dalam Maroko.
Dalam dokumen tersebut, Praha juga menyatakan dukungan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 2797 (2025), serta menilai proposal otonomi yang diajukan Maroko sejak 2007 sebagai solusi paling realistis dan kredibel untuk mengakhiri konflik berkepanjangan.
Dukungan ini memperkuat posisi Maroko di tengah tarik-menarik kepentingan global terkait status Sahara. Sejumlah negara mulai melihat pendekatan otonomi sebagai jalan tengah dibandingkan opsi kemerdekaan penuh yang selama ini menjadi sumber kebuntuan diplomatik.
Di Indonesia, apresiasi datang dari Wilson Lalengke, Presiden Indonesia Sahara Morocco Brotherhood (PERSISMA). Ia menyebut langkah Ceko sebagai kemenangan diplomasi sekaligus kemanusiaan.
“Keputusan Republik Ceko ini sangat cerdas dan berani. Ini menunjukkan bahwa dunia mulai memahami realitas historis dan hukum terkait Sahara,” ujarnya dari Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Wilson menegaskan bahwa stabilitas di Sahara bukan hanya soal kedaulatan wilayah, tetapi juga menyangkut masa depan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Ia memastikan organisasinya akan terus mendukung langkah-langkah yang dinilai mendorong perdamaian dan kesejahteraan.
Pengakuan dari Republik Ceko menambah daftar negara yang mendukung proposal Maroko, sekaligus mempertegas tren perubahan sikap global. Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan penyelesaian konflik secara menyeluruh masih membayangi.
Pengamat menilai, tanpa keterlibatan semua pihak yang berkepentingan, termasuk aktor-aktor regional dan internasional, solusi politik tetap berpotensi menghadapi hambatan.
Meski demikian, langkah Ceko ini menjadi indikasi bahwa pendekatan pragmatis berbasis otonomi semakin diterima sebagai opsi paling memungkinkan dalam mengakhiri konflik Sahara yang telah berlangsung puluhan tahun. (*/TRN)

Komentar0