Tinta Rakyat Nusantara.Com, PONTIANAK — Sekolah Kristen Joyful Kecamatan Pontianak Selatan berkolaborasi dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Pontianak Selatan menggelar talkshow penguatan kompetensi Guru Pendidikan Khusus (GPK) jenjang TK, SD, dan SMP.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang USA Sekolah Kristen Joyful, Pontianak Selatan, Selasa (6/10/2026), dan diikuti sebanyak 60 Guru Pendidikan Khusus (GPK), enam pengurus K3S, serta tiga pendamping satuan pendidikan.
Kegiatan dibuka langsung oleh Kasi SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Mutayam, M.Pd. Turut hadir Pengawas Pendamping Madaresta, S.Pd., Eviyana, S.Pd., dan Lia Hizriani Rivaie, M.Pd., Ketua K3S Kecamatan Pontianak Selatan Rochana, S.Pd., Kepala SD Kristen Joyful Andreas Tatambihe, S.Pd., serta Kepala TK Joyful Merry Apriana, S.Pd.
Talkshow mengangkat tema “Beyond the Behavior: A Medical and Psychiatric Perspective for Inclusive Classrooms”, atau “Memahami Perilaku Anak Lebih Dalam: Perspektif Medis dan Psikiatri dalam Mewujudkan Kelas yang Inklusif.”
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Norwegia, Dr. Li Cui, M.D., dokter spesialis umum dan psikiater, yang memberikan perspektif mengenai pemahaman perilaku anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, dari sisi medis dan psikiatri.
Dalam sambutannya, Kasi SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Mutayam, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus sangat penting agar pendekatan pembelajaran yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik.
“Guru harus memahami anak dengan special needs, sehingga guru bisa memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai. Guru juga perlu melakukan komunikasi dengan orang tua siswa terkait perkembangan anak didiknya,” ujar Mutayam.
Ia menilai kerja sama antara guru dan orang tua dapat mempercepat proses pencapaian pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan pendampingan yang tepat, setiap anak diharapkan dapat berkembang dan menemukan potensi serta kelebihannya.
Mutayam juga menekankan bahwa keberadaan siswa dengan kebutuhan khusus bukanlah hambatan bagi sekolah maupun orang tua.
Sebaliknya, diperlukan pemahaman terhadap kecenderungan, karakter, minat, dan kebutuhan masing-masing anak agar proses pendidikan dapat berjalan secara optimal.
Sementara itu, Ketua K3S Kecamatan Pontianak Selatan, Rochana, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan strategis bagi Guru Pendidikan Khusus untuk memperkuat pemahaman mengenai karakteristik dan perilaku murid berkebutuhan khusus.
“Kegiatan ini menjadi kesempatan strategis bagi Guru Pendidikan Khusus untuk memperkuat pemahaman mengenai karakteristik dan perilaku murid berkebutuhan khusus serta pendekatan pendampingan yang tepat dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan setiap murid,” katanya.
Rochana berharap para GPK yang mengikuti kegiatan tersebut dapat memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang belajar dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Kami berharap kepada Guru Pendidikan Khusus yang ditugaskan dapat mengikuti kegiatan dengan penuh tanggung jawab dan memanfaatkan kesempatan ini sebagai ruang belajar pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan murid berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Senada, Kepala SD Kristen Joyful, Andreas Tatambihe, S.Pd., mengatakan talkshow tersebut menjadi kesempatan penting bagi para pendidik untuk memahami anak secara lebih utuh.
Menurutnya, setiap perilaku anak memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendidik tidak cukup hanya melihat perilaku yang tampak, tetapi juga perlu memahami kondisi dan pengalaman yang melatarbelakanginya.
“Setiap perilaku anak memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, kita perlu belajar melihat bukan hanya apa yang dilakukan anak, tetapi juga apa yang sedang dialaminya,” ungkap Andreas.
Ia berharap peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga mengalami perubahan cara pandang dalam mendampingi anak.
“Semoga para peserta dapat membawa pulang wawasan yang bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara pandang dalam mendampingi anak—menjadi lebih peka, empatik, dan tepat dalam merespons kebutuhan mereka,” katanya.
Andreas menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari langkah bersama dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk merasa diterima serta dihargai.
“Kiranya kegiatan ini menjadi langkah bersama untuk menciptakan kelas yang inklusif, aman, dan membuat setiap anak merasa diterima serta dihargai,” pungkasnya.
(Ria/Editor:Red).






Komentar0