GpWlTUM5GUziTUW8BSW9GfriGd==

Karhutla Kalbar Jadi Ancaman Serius, PII Desak Perlindungan Pelajar

Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Kalbar Periode 2026–2028, Wahyudi.


Tinta Rakyat Nusantara.Com, PONTIANAK – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Kalimantan Barat Periode 2026–2028 mengecam kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus mengancam keselamatan masyarakat di Kalimantan Barat.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, Kalimantan Barat tercatat sebagai provinsi dengan luas karhutla terbesar di Indonesia, mencapai 28.680,47 hektare sepanjang Januari–Juni 2026. Data tersebut masih menjadi rujukan BNPB hingga 9 Agustus 2026.

PW PII Kalbar menilai karhutla tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan. Kabut asap yang ditimbulkan telah menjadi persoalan serius menyangkut kesehatan publik, aktivitas masyarakat, serta keselamatan anak-anak, khususnya peserta didik.

Ketua Umum PW PII Kalbar Periode 2026–2028, Wahyudi, menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu kondisi semakin parah untuk mengambil langkah perlindungan terhadap masyarakat.

Menurutnya, ketika kualitas udara telah mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan, keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama, termasuk dengan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tatap muka.

“Kami mengecam keras kondisi karhutla yang terus memburuk. Ini bukan lagi sekadar kabut asap yang mengganggu pandangan, tetapi ancaman nyata terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat, terutama anak-anak,” tegas Wahyudi.

Kekhawatiran tersebut semakin beralasan melihat kondisi kualitas udara pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Pemantauan BMKG pukul 16.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Kubu Raya mencapai 243,3 µg/m³ dan masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

Pada hari yang sama, pemantauan IQAir mencatat kualitas udara Pontianak berada di sekitar AQI 255 dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 180 µg/m³, yang juga masuk kategori Sangat Tidak Sehat.

Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat sedang menghadapi paparan partikulat halus dalam konsentrasi tinggi yang berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan.

PW PII Kalbar secara khusus mendesak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta pemerintah kabupaten/kota melalui dinas pendidikan masing-masing untuk segera mengambil langkah taktis.

Salah satunya berupa peliburan atau penghentian sementara pembelajaran tatap muka di wilayah yang kualitas udaranya telah berada pada level berbahaya bagi kesehatan.

Kebijakan tersebut dinilai perlu diprioritaskan bagi jenjang TK/PAUD dan SD karena anak-anak merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan asap. Namun, perlindungan juga harus diberikan kepada peserta didik jenjang SMP, SMA/SMK/MA, satuan pendidikan nonformal, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya.

PW PII menegaskan, desakan tersebut bukan berarti menginginkan hak pendidikan anak dihentikan. Sebaliknya, keselamatan peserta didik harus menjadi prasyarat utama dalam penyelenggaraan pendidikan.

Pemerintah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah, pembelajaran jarak jauh, penyesuaian jam belajar, maupun skema pembelajaran darurat sesuai tingkat kualitas udara dan kondisi masing-masing daerah.

Pedoman Sekolah/Madrasah Aman Bencana Kemendikdasmen juga memberikan ruang bagi daerah untuk mengambil kebijakan penyelenggaraan pendidikan dalam situasi darurat, termasuk meliburkan sekolah ketika kondisi lingkungan membahayakan peserta didik.

Minta Data Kesehatan Dipublikasikan Berkala

Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat telah menyampaikan bahwa asap karhutla dapat mengganggu sistem pernapasan karena mengandung partikulat dan berbagai zat berbahaya.

Paparan kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk ISPA, serta memperburuk kondisi asma dan gangguan paru lainnya. Bayi, anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan merupakan kelompok yang lebih rentan.

Dinkes Kalbar pada 2026 juga terus memperkuat surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) sebagai bagian dari pemantauan penyakit pernapasan.

PW PII Kalbar meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan umum mengenai ISPA, tetapi juga melakukan pemantauan serta mempublikasikan data kesehatan secara berkala selama periode karhutla berlangsung.

Hingga 22 Agustus 2026, belum ditemukan publikasi resmi Dinkes Kalbar yang menyajikan angka kumulatif kasus ISPA yang secara spesifik dikaitkan dengan episode karhutla saat ini.

Namun, epidemiolog Dicky Budiman menyebut adanya lonjakan kasus ISPA sekitar lima persen dalam konteks memburuknya paparan asap di Pontianak.

Bagi PW PII Kalbar, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat surveilans kesehatan dan langkah pencegahan, bukan menunggu fasilitas kesehatan dipenuhi pasien.

Perkuat Informasi dan Perlindungan Masyarakat

Selain mengevaluasi aktivitas belajar tatap muka, PW PII Kalbar juga mendesak pemerintah memperkuat penyampaian informasi kualitas udara secara real time.

Pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan masker yang sesuai bagi kelompok rentan, mengurangi aktivitas luar ruangan, memperkuat layanan kesehatan, serta membuka kanal pengaduan masyarakat terkait dampak kabut asap.

BMKG juga memprediksi periode kemarau masih menjadi perhatian serius karena kondisi relatif kering dan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau, terutama di wilayah Kalimantan dan Papua.

Fenomena El Niño kuat juga diprediksi dapat bertahan hingga awal 2027 sehingga risiko kekeringan dan karhutla perlu diantisipasi secara serius.

“Pemerintah harus berani mengambil keputusan berdasarkan keselamatan, bukan sekadar menunggu keadaan memburuk. Jangan sampai anak-anak kita dipaksa belajar di tengah udara yang tidak sehat,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, pendidikan tetap merupakan hal penting, namun keselamatan anak merupakan fondasi yang tidak boleh dikorbankan.

“Kami meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan seluruh pemerintah kabupaten/kota mengambil langkah terukur, cepat, transparan dan berbasis data. Jika kualitas udara sudah sangat tidak sehat, meliburkan sekolah bukan berarti menghentikan pendidikan, melainkan menyelamatkan generasi yang sedang belajar untuk masa depan Kalimantan Barat,” tegasnya.

Di tengah kondisi karhutla yang masih berlangsung, PW PII Kalbar juga menyampaikan apresiasi dan pesan kepada seluruh petugas yang saat ini berjibaku di lapangan.

“Kami berpesan kepada seluruh petugas yang sedang berjibaku di lapangan agar tetap menjaga keselamatan dan kesehatan selama menjalankan tugas. Tetap semangat, jaga kekompakan, dan semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, keselamatan, serta perlindungan hingga tugas kemanusiaan ini tuntas,” pungkas Wahyudi.

(Dwi/Red).

Komentar0

Type above and press Enter to search.