Tinta Rakyat Nusantara.Com, ACEH TIMUR – Menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño, Polres Aceh Timur bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta pemangku kepentingan terkait memperkuat sinergi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mengantisipasi dampak kekeringan yang dapat memengaruhi sektor lingkungan, pertanian, hingga perekonomian masyarakat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya terpadu dalam menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau, serta melindungi masyarakat dari potensi bencana yang dipicu kondisi cuaca ekstrem.
Kapolres Aceh Timur, AKBP Irwan Kurniadi, S.I.K., pada Kamis (30/7), menegaskan bahwa dampak El Niño harus dipandang secara menyeluruh, tidak hanya sebatas ancaman kebakaran hutan dan lahan.
"Jangan berpikir sempit bahwa ancaman hanya soal titik api di hutan. Kemarau panjang ini memicu kekeringan, gagal panen, tekanan ekonomi, hingga kerawanan sosial. Kita harus melihat satu kesatuan rantai ancaman," ujar Kapolres.
Menurutnya, perhatian utama diarahkan pada kawasan perbatasan antara lahan perkebunan dan kawasan hutan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi saat musim kemarau. Vegetasi yang mengering berpotensi memicu kebakaran apabila terjadi aktivitas pembakaran, sekecil apa pun sumber apinya.
Sebagai langkah pencegahan, tim gabungan memasang spanduk imbauan di sejumlah titik strategis yang berbunyi:
"Dilarang Keras Membakar Lahan. Waspada El Niño, Satu Api Bisa Musnahkan Semua."
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aceh Timur melalui Kepala Bidang terkait, Hermansyah, menyampaikan bahwa pihaknya memperkuat koordinasi bersama UPTD di seluruh kecamatan melalui rapat strategi yang digelar di Kantor DLH pada Kamis sore (30/7).
DLH memfokuskan pengawasan pada dua aspek utama, yakni pengamanan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan peningkatan edukasi kepada masyarakat.
Pengawasan di kawasan TPA dilakukan secara intensif dengan melarang praktik pembakaran sampah yang berpotensi memicu kebakaran serta memperburuk pencemaran udara selama musim kemarau.
Selain itu, petugas juga melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan hutan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Membakar lahan di musim kering ekstrem ini bukan solusi, melainkan bom waktu yang menghancurkan lingkungan dan mata pencaharian kita sendiri," kata Hermansyah.
Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur berharap upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan, kerusakan lingkungan, serta dampak sosial ekonomi akibat El Niño dapat diminimalkan. Kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga kelestarian lingkungan serta ketahanan daerah menghadapi musim kemarau.
(Zainal/Red).

Komentar0