Tinta Rakyat Nusantara.Com, Jakarta – Sikap pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang melontarkan ucapan bernada merendahkan kepada awak media dalam sebuah konferensi pers menuai sorotan publik.
Dalam momen tersebut, Hotman Paris diketahui melontarkan kalimat interogatif, “Kau punya otak enggak?”, saat dikonfirmasi wartawan mengenai isu hukum yang tengah menjadi perhatian publik.
Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dari Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (DPN PPWI), Wilson Lalengke. Ia menilai, ucapan tersebut tidak semestinya dilihat semata-mata sebagai luapan emosi, melainkan juga sebagai gambaran tentang cara seseorang merespons tekanan dan pertanyaan kritis di ruang publik.
“Gaya bicara seperti itu bisa menjadi indikasi bahwa seseorang sedang mengalami tekanan dan kehilangan kendali emosional. Bagi saya, hal itu juga memperlihatkan bagaimana seseorang menampilkan jati dirinya ketika berada dalam situasi terdesak,” ujar Wilson Lalengke kepada sejumlah wartawan, Senin (20/7/2026).
Menurut Wilson, masyarakat kerap menilai kekayaan dari aspek material semata. Mobil mewah, perhiasan mahal, serta kemewahan hidup, kata dia, tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang memiliki kekayaan batin maupun ketenangan jiwa.
Ia menilai, seseorang dapat memiliki kekayaan materi yang melimpah, namun tetap merasa kekurangan apabila kehidupannya terus didorong oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak.
“Banyak orang yang secara materi berlimpah, tetapi secara batin tetap merasa kekurangan. Keinginan yang tidak pernah berhenti dapat membuat seseorang terus mengejar materi dan mengabaikan etika maupun kepantasan,” katanya.
Wilson juga mengaitkan sorotan terhadap sikap Hotman Paris dengan tekanan publik yang belakangan muncul terkait sejumlah isu hukum dan politik yang melibatkan tokoh-tokoh penting di negeri ini.
Menurutnya, posisi seorang figur publik, terlebih advokat yang kerap tampil di ruang publik, menuntut kemampuan untuk menghadapi pertanyaan kritis secara profesional.
“Ketika seseorang tidak mampu menjawab pertanyaan kritis, lalu merespons dengan makian atau penghinaan, publik tentu akan menilai bahwa ada persoalan dalam cara menghadapi tekanan. Namun, tentu saja, penilaian mengenai kondisi psikologis seseorang tidak boleh dilakukan secara sembarangan tanpa pemeriksaan profesional,” ujar Wilson.
Ia kemudian mengutip pemikiran filsuf eksistensialis Prancis, Jean-Paul Sartre, mengenai konsep bad faith atau mauvaise foi. Konsep tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang menipu dirinya sendiri dengan berlindung di balik peran sosial, status, atau tuntutan tertentu sehingga kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri.
Dalam konteks kehidupan publik, Wilson menilai, konsep tersebut dapat menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana seseorang mempertahankan citra, kekuasaan, dan status ketika berhadapan dengan kritik.
Ia juga mengutip pemikiran filsuf Stoik, Seneca, mengenai hakikat kemiskinan. Menurutnya, kemiskinan tidak selalu berkaitan dengan sedikitnya harta yang dimiliki.
“Bukan orang yang memiliki sedikit yang disebut miskin, melainkan orang yang selalu menginginkan lebih banyak,” ujarnya mengutip pemikiran Seneca.
Wilson menegaskan, perbedaan pendapat dan kritik terhadap figur publik seharusnya tidak berujung pada penghinaan terhadap wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik.
Ia pun meminta para jurnalis tidak berkecil hati ketika menghadapi sikap arogan dari narasumber atau tokoh publik.
“Wartawan tidak perlu merasa rendah diri ketika menghadapi makian. Pertanyaan kritis merupakan bagian dari fungsi pers dalam menyampaikan keresahan publik. Yang terpenting, wartawan tetap bekerja secara profesional, berintegritas, dan berpegang pada fakta,” pungkasnya.
(Tim/Red)

Komentar0