Tinta Rakyat Nusantara.Com, JAKARTA – Ksatria Fest 3.0 kembali digelar sebagai ajang kompetisi tari tingkat nasional yang memadukan kekayaan budaya Nusantara dengan sentuhan inovasi kreatif. Festival yang diinisiasi Kelompok Tari Ksatria ini menjadi ruang bagi para penari dan koreografer muda untuk menghadirkan karya-karya baru yang tetap berakar pada tradisi Indonesia, namun relevan dengan perkembangan industri kreatif masa kini.
Penyelenggaraan Ksatria Fest tahun ketiga berlangsung mulai 17 Juni hingga 4 Juli 2026 di sejumlah ruang seni di Jakarta. Selain kompetisi tari, festival ini juga menghadirkan workshop, pertunjukan seni, serta ruang kolaborasi bagi para pelaku seni dari berbagai daerah di Indonesia.
Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, mengatakan festival ini lahir dari keinginan untuk memperkuat ekosistem tari Indonesia sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkarya.
Menurut Bathara, tema yang diangkat tahun ini adalah tradipop, sebuah pendekatan yang menggabungkan unsur tradisi dengan kemasan pertunjukan yang lebih ringkas, dinamis, dan mudah diterima masyarakat tanpa menghilangkan nilai budaya yang menjadi fondasinya.
“Tradipop bukan pengganti tari tradisi. Justru ini menjadi jembatan agar masyarakat, terutama generasi muda, lebih mudah mengenal dan mencintai budaya Indonesia,” ujar Bathara Saverigadi Dewandoro dalam konferensi pers Ksatria Fest 3.0 di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan para peserta diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai gaya tari, mulai dari balet, street dance, hingga tari kontemporer. Namun, seluruh karya yang dilombakan wajib mengangkat unsur budaya lokal, baik melalui tema, musik, kostum, maupun nilai-nilai yang diusung.
Pembatasan durasi pertunjukan maksimal empat menit juga menjadi bagian dari strategi festival untuk menjawab kebutuhan industri kreatif yang membutuhkan karya singkat namun tetap memiliki kekuatan artistik.
Selain menghadirkan kompetisi, Ksatria Fest 3.0 juga menerapkan sistem penilaian yang melibatkan masyarakat. Sebanyak 100 voters dari berbagai latar belakang akan memberikan penilaian tambahan di samping lima dewan juri profesional yang memiliki kompetensi di bidang tari, koreografi, musik, dan industri kreatif.
Menurut Bathara, mekanisme tersebut dirancang agar karya yang terpilih tidak hanya unggul secara teknis dan artistik, tetapi juga mampu membangun keterhubungan dengan masyarakat luas.
“Penilaian utama tetap berada di tangan dewan juri. Kehadiran voters menjadi cara untuk melihat bagaimana sebuah karya dapat diterima oleh berbagai kalangan,” katanya.
Sebanyak 15 kelompok tari dari berbagai daerah telah lolos ke babak semifinal setelah melalui proses kurasi dari total 38 peserta yang mendaftar. Mereka akan bersaing memperebutkan gelar Laskar Ksatria Tari Indonesia pada malam puncak yang akan digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 4 Juli 2026.
Melalui Ksatria Fest 3.0, penyelenggara berharap lahir generasi baru penari Indonesia yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis yang kuat, tetapi juga mampu menjadi duta budaya yang membawa seni tari Indonesia semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.***

Komentar0