Tinta Rakyat Nusantara.Com, PONTIANAK — Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat belum juga mereda. Setelah sebelumnya viral akibat keputusan juri yang dianggap kontroversial, kini dua sekolah yang menjadi pusat perhatian, yakni SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, sama-sama menolak pelaksanaan tanding ulang final lomba tersebut.
Keputusan kedua sekolah itu membuat posisi penyelenggara, yakni MPR RI, berada dalam sorotan publik. Sebab, opsi tanding ulang yang sebelumnya diumumkan sebagai jalan tengah justru memunculkan persoalan baru.
SMAN 1 Pontianak sejak awal diketahui tidak meminta kemenangan lawan dibatalkan. Sekolah tersebut hanya meminta klarifikasi atas keputusan juri yang dianggap keliru dalam penilaian jawaban. Bahkan pihak sekolah tetap menghormati hasil lomba dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat ke tingkat nasional.
Namun situasi berkembang setelah polemik meluas di media sosial dan menjadi perhatian publik nasional. Di tengah tekanan yang terus meningkat, SMAN 1 Sambas juga akhirnya menyatakan menolak tanding ulang.
Alasan penolakan itu disebut berkaitan dengan kondisi psikologis siswa, tekanan media sosial, serta suasana kompetisi yang dinilai sudah tidak kondusif.
Dengan sikap dua sekolah tersebut, publik mulai mempertanyakan langkah lanjutan yang akan diambil MPR RI. Sebab, jika kedua pihak sama-sama menolak, maka pelaksanaan final ulang praktis sulit dilakukan.
Sorotan masyarakat kini tidak lagi terfokus pada siapa yang menjadi juara, melainkan pada kredibilitas penyelenggaraan lomba dan sistem penjurian yang digunakan.
Sejak awal, perhatian netizen lebih banyak tertuju pada keputusan juri dan cara penanganan polemik oleh panitia. Karena itu, keputusan untuk mengulang lomba dinilai sebagian pihak belum menyentuh akar persoalan utama.
Pengamat media sosial menilai kasus ini menunjukkan perubahan pola pengawasan publik di era digital. Jika sebelumnya keputusan penyelenggara kegiatan cenderung diterima begitu saja, kini masyarakat dapat langsung mengawal dan mengkritisi melalui media sosial.
Di sisi lain, polemik ini dinilai dapat menjadi momentum evaluasi bagi penyelenggaraan LCC Empat Pilar MPR RI ke depan, terutama terkait transparansi penilaian, standar kompetisi, hingga mekanisme penyelesaian sengketa dalam perlombaan.
Hingga kini, publik masih menunggu keputusan resmi MPR RI terkait kelanjutan final LCC tersebut. (Tim/Red)

Komentar0