Tinta Rakyat Nusantara.Com, Aceh Selatan – Polemik berkepanjangan yang melibatkan Kepala SMA Negeri 1 Trumon, Sri Wahyuni, kembali menjadi sorotan publik. Aktivis menilai penanganan persoalan tersebut mencerminkan lemahnya respons birokrasi pendidikan di Aceh Selatan.
Asaduddin, pemuda Trumon sekaligus mantan Wakil Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pemuda Pelajar Trumon (HMP2T) periode 2022–2024, menyampaikan kritik tajam terhadap Dinas Pendidikan Aceh dan Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Aceh Selatan.
Menurutnya, ketidakmampuan menyelesaikan persoalan yang berlarut-larut menunjukkan adanya masalah serius dalam tata kelola birokrasi pendidikan.
“Ini bukan sekadar persoalan lambannya penanganan, tetapi sudah mencerminkan kegagalan dalam mengambil keputusan. Publik tentu berharap ada langkah konkret agar konflik tidak terus berkepanjangan,” ujar Asaduddin.
Ia menilai pembiaran terhadap konflik tersebut berpotensi mencederai prinsip akuntabilitas dan kepastian dalam penyelenggaraan pendidikan.
Asaduddin juga mempertanyakan sikap pihak terkait yang dinilai belum memberikan kejelasan dalam penyelesaian persoalan tersebut. Menurutnya, pejabat publik seharusnya hadir memberikan solusi agar polemik tidak terus berkembang di tengah masyarakat.
“Ketika konflik di lingkungan pendidikan tidak segera ditangani, maka kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan bisa menurun,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut perlu disikapi secara serius agar tidak menjadi preseden buruk dalam tata kelola pendidikan di Aceh.
Ia berharap Dinas Pendidikan Aceh dan Kacabdin Aceh Selatan segera mengambil langkah evaluasi dan penyelesaian secara terbuka demi menjaga stabilitas serta kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Dinas Pendidikan Aceh maupun Cabang Dinas Pendidikan Aceh Selatan terkait polemik tersebut.
(Zainal/ Editor:Red).

Komentar0