Tinta Rakyat Nusantara.Com, Rekam jejak Jusuf Kalla dalam menyelesaikan berbagai konflik di tanah air patut diapresiasi. Bangsa ini seharusnya bersyukur dan bangga memiliki figur dengan kapasitas serta pengalaman seperti beliau dalam menjaga perdamaian dan persatuan.
Peran Jusuf Kalla dalam meredam konflik bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Ia dikenal sebagai salah satu aktor kunci dalam penyelesaian konflik besar di Indonesia, seperti konflik Konflik Ambon, Konflik Poso, hingga perdamaian di Aceh melalui Perjanjian Helsinki.
Bayangkan jika tidak ada sosok seperti Jusuf Kalla dalam proses-proses tersebut—mungkin konflik akan berlangsung lebih lama, menimbulkan korban lebih besar, dan meninggalkan luka sosial yang semakin dalam.
Sebagai anak Maluku, rasa bangga terhadap peran beliau tentu sangat beralasan. Keadaan Maluku hari ini yang relatif damai tidak lepas dari kontribusi tokoh-tokoh yang berjuang di masa sulit, termasuk Jusuf Kalla. Tanpa upaya perdamaian tersebut, bukan tidak mungkin wilayah itu masih dibayangi konflik berkepanjangan.
Karena itu, penting bagi kita untuk memahami secara utuh konteks pernyataan atau ceramah yang disampaikan Jusuf Kalla. Jangan sampai dipolitisasi tanpa memahami substansi dan latar belakangnya. Apa yang beliau sampaikan sejatinya berangkat dari pengalaman empiris serta realitas sosiologis yang pernah terjadi dalam konflik bernuansa SARA, khususnya di Ambon dan Poso—bukan untuk menyudutkan pihak atau agama tertentu.
Menjaga semangat perdamaian yang telah diperjuangkan adalah tanggung jawab bersama. Warisan nilai inilah yang seharusnya terus kita rawat dalam menghadapi potensi konflik horizontal di masa kini dan masa depan.
Penulis: Korneles Galanjinjinay (Ketum GMKI 2018-2020) (Waketum Parkindo 2021-2026).

Komentar0