Tinta Rakyat Nusantara.Com, DELI SERDANG — Ratusan petani cabai di Kabupaten Deli Serdang, khususnya di Kecamatan Beringin, tengah menghadapi krisis serius akibat anjloknya harga cabai hingga menyentuh Rp8.000 per kilogram. Harga tersebut jauh di bawah biaya produksi, menyebabkan petani mengalami kerugian besar.
Kondisi yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) ini membuat para petani terpukul. Mereka tidak hanya kehilangan keuntungan, tetapi juga kesulitan mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama masa tanam.
Selain faktor harga, petani juga menyoroti minimnya realisasi kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Sebelumnya, Bupati Deli Serdang, dr. Asri Ludin Tambunan, telah menginstruksikan agar hasil panen cabai ditampung oleh BUMD Bhineka Perkasa Jaya guna menstabilkan harga dan melindungi petani. Namun, hingga kini kebijakan tersebut dinilai belum berjalan di lapangan.
Seorang anggota kelompok tani mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, pemerintah kerap melakukan operasi pasar saat harga cabai tinggi untuk melindungi konsumen, namun tidak menunjukkan langkah konkret saat harga jatuh.
“Kalau harga mahal cepat diturunkan. Tapi saat harga jatuh seperti ini, tidak ada upaya membeli hasil panen kami. Jangankan untung, balik modal saja sudah sulit,” keluhnya.
Keluhan tersebut disampaikan kepada Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (DPW A-PPI) Sumatera Utara, Hardep (Raju), di kediamannya di Kecamatan Pantai Labu, Kamis (2/4/2026).
Menanggapi hal itu, Hardep menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami para petani. Ia menilai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh kepala daerah sudah tepat, namun implementasinya belum terlihat.
“Kami sangat prihatin. Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan, tetapi justru paling terdampak saat harga anjlok. Kebijakan Bupati sudah baik, namun pelaksanaannya belum maksimal,” ujarnya.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, khususnya Dinas Pertanian dan Disperindag, agar segera mengambil langkah konkret. Menurutnya, alasan keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi penghambat dalam melindungi petani.
“Petani butuh kepastian dan perlindungan nyata. Jangan sampai kebijakan hanya menjadi wacana. Jika ada kendala anggaran, harus segera dicarikan solusi karena ini menyangkut keberlangsungan hidup ratusan keluarga,” tegasnya.
Hardep juga menekankan pentingnya keadilan dalam intervensi harga pangan. Ia menilai pemerintah harus bersikap seimbang antara melindungi konsumen dan petani.
“Ketika harga naik, intervensi cepat dilakukan. Maka saat harga jatuh, petani juga harus dilindungi dengan langkah yang sama cepatnya,” tambahnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kepala Dinas Pertanian Deli Serdang, Elinasari Lubis, belum memberikan tanggapan terkait keluhan petani maupun implementasi kebijakan penampungan hasil panen.
Ketiadaan respons tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait keseriusan pemerintah daerah dalam menangani krisis yang dihadapi petani cabai saat ini.
Hingga kini, para petani hanya bisa berharap adanya langkah nyata dari pemerintah agar mereka tidak semakin terpuruk akibat anjloknya harga komoditas tersebut.
(Rizky/Red).

Komentar0