Warga Pengungsi Banjir Langkahan Terharu, Impian Sederhana Berbuka dengan Daging Akhirnya Terwujud
Tinta Rakyat Nusantara.Com, Langkahan — Suasana haru dan bahagia menyelimuti warga pengungsi banjir di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, saat waktu berbuka puasa tiba. Di tengah keterbatasan akibat bencana, sebuah momen sederhana berubah menjadi sangat berarti: berbuka puasa bersama dengan hidangan daging, sesuatu yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Kebahagiaan itu hadir berkat bantuan satu ekor sapi dari Wakil Gubernur Aceh yang diberikan sebagai respons atas permohonan masyarakat pengungsi. Permintaan tersebut lahir dari kerinduan warga untuk sekadar menikmati hidangan daging bersama di bulan suci Ramadan.
“Sudah lama sekali kami tidak makan daging. Kami hanya ingin bisa berbuka bersama dengan lauk yang istimewa, walaupun sederhana,” ujar Yusuf (52), salah satu warga pengungsi, dengan mata berkaca-kaca.
Permintaan itu sebelumnya disampaikan saat kegiatan buka puasa bersama di Masjid Matang Drien, yang merupakan kampung asal Bupati Aceh Utara. Tanpa menunggu lama, Wakil Gubernur Aceh langsung menyetujui dan mengirimkan bantuan satu ekor sapi untuk warga Langkahan.
Pada hari pelaksanaan, sapi tersebut disembelih dan diolah secara gotong royong oleh warga di lokasi pengungsian. Di balik kepulan asap dapur darurat, tersimpan rasa syukur yang mendalam dari para pengungsi.
Wakil Gubernur Aceh menyampaikan bahwa kondisi masyarakat di pengungsian turut menyentuh hatinya. Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
“Saya terharu melihat kondisi masyarakat kita di sini. Di tengah ujian, mereka tetap kuat dan sabar. Bantuan ini mungkin tidak seberapa, tetapi ini adalah bentuk kehadiran kami agar masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.
Bagi warga, bantuan tersebut bukan sekadar makanan, melainkan simbol kepedulian dan perhatian dari pemerintah. Di saat banyak hal hilang akibat banjir, momen berbuka puasa bersama ini menghadirkan kembali kehangatan, kebersamaan, dan harapan.
Di antara tenda-tenda pengungsian, senyum mulai kembali terlihat. Anak-anak, orang tua, hingga lansia berkumpul menanti waktu berbuka dengan penuh harap. Tangis haru pun pecah, menyadari bahwa di tengah cobaan, masih ada uluran tangan yang peduli.
Bantuan satu ekor sapi mungkin tampak sederhana, namun bagi warga pengungsi Langkahan, ini adalah kebahagiaan yang tak ternilai—sebuah pengingat bahwa mereka tidak sendiri di tengah ujian.
(Zainal/Red).

Komentar0