Tinta Rakyat Nusantara.Com, Siantar (Sumut) – Yayasan Universitas Simalungun (USI) kembali menjadi sorotan setelah muncul keluhan dari pihak rektorat dan dekanat terkait belum cairnya dana operasional fakultas, yang mengakibatkan terhambatnya sejumlah kegiatan akademik.
Situasi internal memanas ketika para dekan dan pihak rektorat menyuarakan kekecewaan. Mereka menilai keterlambatan pencairan dana berdampak pada jalannya aktivitas kampus.
Selain dana operasional, kondisi fasilitas kendaraan dinas USI juga disorot. Sejumlah mobil dinas dilaporkan rusak dan tidak terawat karena minimnya anggaran perbaikan. Bahkan, Rektor USI terpaksa menggunakan kendaraan pribadi untuk kebutuhan operasional karena mobil dinas resmi tidak bisa dipakai.
Ironisnya, Yayasan USI dinilai lebih memprioritaskan alokasi dana untuk pendirian badan usaha, meski proyek tersebut disebut-sebut mangkrak dan telah menghabiskan dana hingga Rp800 juta.
“Jangan sampai masalah ini berlarut-larut. Kami minta transparansi dan kepastian kapan dana cair,” tegas salah satu dekan.
Menanggapi hal ini, Ketua Yayasan USI, Jon Rawinson Saragih, S.Pd, M.Si, menjelaskan bahwa yayasan telah mendirikan badan usaha bernama PT Intan Pusaka Bumi yang bergerak di bidang air mineral dan telah melakukan replanting sawit seluas 18 hektare di areal USI dengan menggunakan dana kampus.
Terkait keluhan soal gaji honorer dan dana operasional yang belum terbayar, Jon Rawinson menyebut biaya kuliah mahasiswa USI merupakan yang terendah di wilayah Siantar–Simalungun sehingga pendapatan kampus terbatas. “Namun, kami selalu mengutamakan penggajian para dosen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa investasi yang dilakukan yayasan akan dirasakan manfaatnya di masa depan. “Hasil dari badan usaha ini sepenuhnya dipergunakan untuk kemaslahatan Universitas Simalungun,” tutupnya.
(ARS/Editor:Red).

Komentar0