GpWlTUM5GUziTUW8BSW9GfriGd==

Perkuat Persatuan dan Lestarikan Budaya, Kodim 1204/Sanggau Hadiri Festival Faradje’ XVIII


Tinta Rakyat Nusantara Com, SANGGAU – Festival Budaya Faradje’ Pesaka Negeri Sanggau XVIII Tahun 2026 resmi dibuka di Halaman Istana Surya Negara, Jalan Pangeran Mas, Kelurahan Ilir Kota, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Rabu (7/10/2026).

Pembukaan festival yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dihadiri Bupati Sanggau Drs. Yohanes Ontot, M.Si., Kepala Disporapar Provinsi Kalimantan Barat Drs. H. Sugeng Hariadi, M.M., Ketua Umum DPP Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Ym Karaeng Turikale VIII Maros Brigjen Polisi (Purn.) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa, serta sejumlah pejabat dan tokoh adat, agama, masyarakat dan budaya.

Turut hadir Pasi Pers Kodim 1204/Sgu Kapten Inf Y. Santos, Danramil 1204-01/Kps Kapten Inf Eko Prasetyo Widodo, Wadanyonif TP 833/BD Kapten Inf Albertho Batara Tiku, S.Tr.(Han.), Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika, S.I.K., M.H., Kajari Sanggau Eben Ezer Mangunsong, S.H., M.H., Ketua DPRD Kabupaten Sanggau Hendrikus Hengki, S.T., serta para raja, sultan, pangeran, ratu dan kerabat kerajaan Nusantara.

Festival tersebut juga dihadiri perwakilan Kesultanan Sambas, Mempawah, Kubu, Landak, Simpang, Sintang, Pontianak, Matan, Kerajaan Tayan, Kerajaan Sekadau hingga Kesultanan Sulu Darul Ehsan, serta tokoh masyarakat Melayu Kabupaten Sanggau dan berbagai paguyuban.

Dalam sambutannya, Pangeran Ratu Surya Negara Drs. H. Gusti Arman, M.Si., menjelaskan bahwa Faradje’ memiliki filosofi sebagai ikhtiar untuk melakukan “pembersihan negeri” dari mara bahaya, malapetaka dan sifat-sifat buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Faradje’ tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat dan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, mempererat persaudaraan serta memohon perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Sanggau untuk menjaga persatuan dan tidak menjadikan perbedaan suku maupun agama sebagai alasan untuk saling membedakan.

“Siapa pun yang lahir di Sanggau, tumbuh di Sanggau, mencari kehidupan di Sanggau, membangun keluarga di Sanggau, maka ia adalah bagian dari masyarakat Sanggau,” ujarnya.

Ia menegaskan, masyarakat Dayak, Melayu dan berbagai suku lainnya merupakan bagian dari sejarah serta kehidupan Kabupaten Sanggau. Karena itu, persatuan dan sikap saling menghormati harus terus dijaga.

“Kalau kita bersatu, kita kuat. Kalau kita terpecah, kita akan mudah dilemahkan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP FSKN Ym Karaeng Turikale VIII Maros Brigjen Polisi (Purn.) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa mengatakan, kegiatan budaya seperti Faradje’ pada hakikatnya merupakan bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan, perlindungan dan keberkahan bagi masyarakat.

Ia menilai berbagai tradisi masyarakat di Nusantara memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengandung nilai doa, silaturahmi dan kebersamaan.

“Marilah kita terus menjaga tradisi silaturahmi, memuliakan tamu, menjaga budaya dan memperkuat persaudaraan,” pesannya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanggau Drs. Yohanes Ontot, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada panitia, pelaku seni dan budaya serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Festival Budaya Faradje’ Pesaka Negeri Sanggau XVIII Tahun 2026.

Bupati menjelaskan bahwa pelaksanaan Festival Faradje’ tahun ini memiliki cerita tersendiri. Kegiatan yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada September tersebut harus ditunda karena Kabupaten Sanggau saat itu menghadapi kondisi kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.

“Dalam situasi tersebut, keselamatan dan kesehatan masyarakat tentu menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, pelaksanaan Festival Faradje’ tertunda sampai kondisi memungkinkan dan lebih aman untuk dilaksanakan,” jelasnya.

Menurut Bupati, keputusan menunda kegiatan bukan berarti mengabaikan budaya. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Ia menegaskan, visi Pemerintah Kabupaten Sanggau, yakni “Sanggau Berkelanjutan, Maju, Berkeadilan”, tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik, tetapi juga pelestarian adat, budaya, karakter serta jati diri masyarakat.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang. Budaya harus dipahami, dijaga, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Bupati berharap Sanggau dapat terus berkembang menjadi daerah yang maju dan modern tanpa kehilangan karakter serta jati diri budaya. Generasi muda juga diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus tetap menjaga adat dan budaya daerah.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Sanggau secara resmi membuka Festival Budaya Faradje’ Pesaka Negeri Sanggau XVIII Tahun 2026.

Festival ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, melestarikan adat dan budaya, sekaligus memperkokoh persatuan masyarakat Kabupaten Sanggau dalam keberagaman.

(Pendim 1204/TRN-Red).

Komentar0

Type above and press Enter to search.