Tinta Rakyat Nusantara.Com, ACEH TIMUR — Prinsip “dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang” tampaknya menjadi pegangan Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, dalam menjalankan roda pemerintahan.
Memasuki sekitar 1,5 tahun masa kepemimpinannya, sejumlah program pembangunan infrastruktur mulai diarahkan pada titik-titik yang dinilai menjadi kebutuhan masyarakat, mulai dari kawasan perkotaan hingga wilayah pedesaan.
Salah satunya adalah penanganan infrastruktur yang terdampak banjir 2025. Jalan penghubung Idi Tunong–Banda Alam yang mengalami kerusakan kini mulai mendapat penanganan.
Selain itu, pembangunan Jembatan Desa Kemuning juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Bupati telah meninjau langsung kondisi jembatan tersebut dan menyatakan pembangunan akan dipacu pada 2027.
Tidak hanya di wilayah tersebut, Jembatan Naleung di Kecamatan Julok yang menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat di kawasan barat juga masuk dalam rencana prioritas pembangunan untuk dipacu pada 2027.
Penanganan infrastruktur juga menyasar kawasan perkotaan. Pembenahan sejumlah ruas jalan dan wajah Kota Idi Rayeuk menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah melakukan perbaikan fasilitas publik.
Di sisi lain, persoalan masyarakat terdampak banjir juga terus menjadi perhatian. Bupati Iskandar Al-Farlaky sebelumnya melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait bantuan bagi korban banjir, termasuk bantuan jaminan hidup, stimulan ekonomi dan kebutuhan hunian.
Langkah tersebut dilakukan di tengah berbagai kritik yang muncul di ruang publik. Sejumlah pihak di media sosial mempertanyakan arah pembangunan pemerintah daerah dan menuding pembangunan hanya akan berfokus pada wilayah tertentu.
Namun, pemerintah daerah menyatakan pembangunan diarahkan untuk seluruh masyarakat Aceh Timur tanpa membedakan latar belakang maupun wilayah.
“Untuk apa dengarkan hujatan? Kami lihat sendiri Bupatinya turun langsung ke lapangan, becek-becekan lihat jalan kami. Bukan duduk manis di kantor. Prinsip beliau jelas, dicaci tidak tumbang, dipuji tidak terbang, beliau tetap kerja,” ujar seorang warga Idi Tunong.
Bupati Iskandar Al-Farlaky menegaskan pembangunan tidak dapat dilakukan sekaligus, mengingat luas wilayah dan kebutuhan infrastruktur Aceh Timur yang cukup besar.
“Keluhan masyarakat kita tampung, infrastruktur akan kita bangun secara bertahap untuk kepentingan masyarakat Aceh Timur. Terkait bantuan banjir, kita terus berupaya keras agar masyarakat dapat bantuan dari pemerintah pusat. Mohon doanya agar sama-sama kita berjuang untuk membangun Aceh Timur,” tegas Iskandar, Kamis (1/10/2026).
Masa kepemimpinan masih berjalan dan sejumlah pekerjaan masih berada dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan.
Karena itu, hasil pembangunan dan pemenuhan janji pemerintahan tersebut tetap akan menjadi bagian yang dapat dinilai masyarakat berdasarkan perkembangan di lapangan.
Bagi Iskandar Al-Farlaky, kritik merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Sementara pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat menjadi pekerjaan yang harus terus dijalankan.
(Zainal/Red)

Komentar0